cw // kiss ⚠️


Sesudah jam sekolah telah usai, Jaemin dengan susu pisang di tangannya segera berlari meninggalkan Haechan juga Renjun yang meneriakan namanya di belakang.

Keduanya bertatapan beberapa detik lalu mengangkat bahu singkat tanda tidak tau menahu kenapa Jaemin pergi terburu - buru.

Jaemin sudah menunggu jam pulang sejak istirahat tadi, bahkan tidak berjualan karna terlalu malas entah mengapa.

Saat ini tujuan Jaemin adalah pergi ke apartement Jeno. Sedikitnya Jaemin mengingat jalan yang dilalui saat Jeno mengantarnya pulang hari itu.

Dipandangi susu pisang di genggaman lalu tersenyum tipis. Jaemin tau dia mungkin sudah gila jika pergi menemui Jeno yang tengah rut, seakan melemparkan dirinya ke kandang singa jika teman - temannya tau.

Hanya saja—tolong jangan salahkan Jaemin bila tidak bisa menahan diri ingin bertemu. Jeno tidak membalas chat nya, bahkan baru tadi akhirnya Alpha itu membalas namun sekedar menyuruh Jaemin minum susu pisang yang di titipkan lelaki itu.

Jaemin kecewa tentu saja, maka dia bertekad untuk bertemu Jeno tanpa paksaan, tanpa memikirkan apa yang bisa terjadi padanya jika bertemu Jeno. Asalkan bisa menatap sebentar saja mata dan paras milik Alphanya—sudah cukup bagi Jaemin.

Bus yang menjadi tumpangannya berhenti, Jaemin segera turun dan melanjutkan jalannya sembari melihat kanan dan kiri takut jika salah jalan. Namun sebuah tulisan dan bangunan tinggi yang menjulang di depannya membuat Jaemin langsung sumringah saat itu juga.

Jaemin masuk ke dalam lalu menaiki lift, menekan lantai tiga yang membuat benda itu bergerak membawanya naik. Walau begitu Jaemin gugup, keringat dingin keluar dari cela kulitnya. Sebenarnya Jaemin tidak tau apa Jeno ada di appartement nya atau di rumahnya. Hanya saja feeling nya mengatakan Jeno ada di appartement nya.

Suara denting itu terdengar ketika Jaemin telah sampai di lantai tiga, kakinya melangkah membawa dirinya berjalan menyusuri nomer di setiap pintu hingga berhenti pada nomer seratus sembilan belas.

Kala itu Jeno yang tengah meminum segelas air dikejutkan dengan suara bel appartement nya. Dahinya mengernyit, apa mungkin Kakak nya telah datang?

“Tumben ga langsung masuk.” Gumam Jeno.

Kemudian berjalan ke arah pintu untuk membukakan.

Jaemin tersentak melihat pintu di depannya terbuka dengan perlahan dan menampilkan wajah Jeno pun iris dark blue milik lelaki itu. Jangan lupakan Jeno sedang rut.

Seketika Jeno terdiam, mengerjapkan matanya kala arah pandangnya bertemu sosok yang dia ingin lihat hadirnya. Namun feromon dengan scent manis itu tercium begitu kuat, spontan Jeno ingin menutup pintu tetapi Jaemin lebih dulu mengganjal kakinya agar pintu tidak tertutup.